Menu Close

Ketika Rumah Mereka Terbakar: Karhutla Kalimantan dan Satwa yang Kehilangan Hutan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan yang mengkhawatirkan di Kalimantan. Ketika api mulai menyebar dan asap memenuhi udara, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia. Di balik kepulan asap dan hamparan lahan yang terbakar, ada satwa liar yang kehilangan tempat tinggal, sumber makanan, dan tempat berlindung. Bagi manusia, rumah yang terbakar mungkin masih bisa dibangun kembali. Namun, bagi satwa liar, kehilangan hutan berarti kehilangan seluruh ruang hidupnya. Bayangkan seekor orangutan yang selama bertahun-tahun hidup di antara pepohonan. Ia mencari makanan, membuat sarang, dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Ketika api datang, hutan yang selama ini menjadi rumahnya berubah menjadi tempat yang penuh bahaya.

Photo by Bernat Ripoll Capilla | BNF | CIMTROP

Pada 2026, sejumlah wilayah di Kalimantan Barat terdampak karhutla dan mendorong satwa keluar dari habitat alaminya. Hingga 16 September 2026, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaporkan telah mengevakuasi 21 orangutan dan 12 satwa liar lainnya. Satwa yang dievakuasi antara lain trenggiling, bekantan, lutung kelabu, kukang Kalimantan, dan musang tenggalung. Satwa-satwa tersebut ditemukan di wilayah terdampak kebakaran, terutama di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Beberapa orangutan bahkan ditemukan di kebun masyarakat setelah habitat mereka terdampak kebakaran. Salah satunya adalah orangutan betina bernama Mama Man bersama anaknya. Ketika tutupan hutan di sekitar habitatnya tidak lagi memadai, mereka terpaksa berada di kawasan manusia untuk mencari tempat yang lebih aman.

Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan dapat menimbulkan masalah yang lebih panjang setelah api padam. Satwa yang kehilangan habitat dapat berpindah ke kawasan perkebunan atau permukiman untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Perpindahan tersebut juga dapat meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar.

 Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia.

Orangutan merupakan salah satu satwa yang sangat bergantung pada keberadaan hutan. Penelitian Ashbury dan rekan menunjukkan bahwa dampak kebakaran terhadap orangutan dapat berlangsung cukup lama (Ashbury dkk., 2022). Setelah kebakaran tahun 2015 di kawasan Tuanan, Kalimantan Tengah, produktivitas buah di hutan mengalami penurunan selama lebih dari 33 bulan. Artinya, meskipun api telah padam, hutan belum tentu langsung kembali menyediakan makanan yang cukup bagi orangutan.

Pohon-pohon membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali. Tumbuhan yang menjadi sumber makanan tidak langsung tersedia. Struktur hutan yang digunakan satwa untuk berlindung dan membuat sarang juga tidak serta-merta kembali seperti sebelumnya. Bagi satwa liar, kehilangan habitat bukan hanya kehilangan kawasan hijau, tetapi kehilangan tempat untuk hidup. Masalahnya menjadi semakin serius ketika kebakaran terjadi di kawasan gambut. Kalimantan memiliki sekitar 45.000 km² lahan gambut tropis yang menjadi salah satu penyimpan karbon penting. Namun, ekosistem ini telah mengalami tekanan akibat drainase, deforestasi, perubahan tutupan lahan, dan pembakaran (Schmidt dkk., 2024).

Schmidt dkk. (2024) dalam penelitiannya terhadap kebakaran gambut di Kalimantan selama 2001–2021 menemukan adanya hubungan kuat antara kondisi iklim yang berkaitan dengan El Niño dengan frekuensi kebakaran dan luas gambut yang terbakar. Penelitian tersebut juga menunjukkan peningkatan proporsi kebakaran dengan tingkat keparahan tinggi dan sangat tinggi pada periode 2015–2021. Kebakaran di lahan gambut juga tidak hanya merusak vegetasi yang terlihat di permukaan. Api dapat memengaruhi lapisan gambut yang menyimpan karbon dalam jumlah besar. Karena itu, dampaknya dapat berlangsung lebih lama daripada sekadar waktu ketika api terlihat menyala. Karhutla sering kali dibicarakan melalui angka, seperti jumlah titik panas, luas wilayah yang terbakar, atau jumlah lokasi kebakaran. Angka-angka tersebut memang penting untuk menunjukkan skala bencana. Namun, ada cerita lain yang tidak selalu terlihat di balik angka tersebut.

Ada sarang yang hilang.

Ada pohon buah yang terbakar.

Ada sumber air yang terganggu.

Ada anak satwa yang kehilangan induknya.

Ada satwa yang harus keluar dari habitatnya dan masuk ke wilayah manusia.

Dan ada ekosistem yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan harus dilakukan sebelum kebakaran terjadi, terutama pada kawasan yang memiliki nilai ekologis tinggi. Penelitian mengenai kebakaran gambut di Kalimantan juga menunjukkan pentingnya memperhatikan perubahan tutupan lahan dan kondisi iklim dalam memahami pola kebakaran. Evakuasi satwa yang terdampak tentu penting. Namun, menyelamatkan satwa satu per satu tidak dapat menggantikan fungsi hutan sebagai habitat. YIARI dan Kementerian Kehutanan melakukan pemantauan, penyelamatan, dan perawatan terhadap satwa yang terdampak, sementara upaya penanganan kebakaran juga dilakukan melalui pemadaman darat, patroli, pemantauan, dan berbagai tindakan lainnya.

Di sisi lain, hutan yang masih tersisa perlu dijaga agar tidak ikut terbakar. Kawasan yang telah rusak perlu dipulihkan, sementara koridor antarhabitat perlu dipertahankan agar satwa tetap memiliki ruang untuk bergerak. Masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan juga perlu dilibatkan dalam upaya pencegahan kebakaran. Karhutla di Kalimantan kembali mengingatkan kita bahwa kebakaran hutan bukan hanya bencana bagi manusia. Di dalam hutan terdapat kehidupan yang tidak dapat begitu saja berpindah ketika rumahnya terbakar. Orangutan tidak bisa membangun kembali hutan dalam semalam. Trenggiling tidak bisa begitu saja menemukan tempat berlindung baru. Bekantan juga tidak dapat mengembalikan pohon-pohon yang menjadi bagian dari habitatnya.

Mereka hanya bisa mencari tempat yang tersisa.

Karena itu, ketika membicarakan karhutla, mungkin kita tidak cukup hanya bertanya, “Berapa hektare yang terbakar?”

Kita juga perlu bertanya, “Berapa banyak rumah satwa yang ikut hilang?”

Sebab ketika satu kawasan hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada kehidupan yang ikut terusir dari rumahnya.

Dan bagi satwa liar Kalimantan, rumah itu adalah hutan.

oleh: Alifia Citra Ramadhanti

 

Daftar Referensi:

Ashbury, A. M., Meric de Bellefon, J., Kunz, J. A., Abdullah, M., Marzec, A. M., Fryns, C., Utami Atmoko, S. S., van Schaik, C. P., & van Noordwijk, M. A. (2022). After the Smoke Has Cleared: Extended Low Fruit Productivity Following Forest Fires Decreased Gregariousness And Social Tolerance Among Wild Female Bornean Orangutans (Pongo pygmaeus wurmbii). International Journal of Primatology, 43, 189–215.

Schmidt, A., Ellsworth, L. M., Boisen, G. A., Novita, N., Malik, A., Gangga, A., Albar, I., Dwi Nurhayati, A., Putra Ritonga, R., Asyhari, A., & Kauffman, J. B. (2024). Fire Frequency, Intensity, and Burn Severity in Kalimantan’s Threatened Peatland Areas Over Two Decades. Frontiers in Forests and Global Change, 7, 1221797.

Yayasan IAR Indonesia. (2026, September 16). Update Situasi Karhutla.

Posted in ARTIKEL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.