Belum lama ini, masyarakat dihebohkan dengan perubahan definisi sawit oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Sawit sebelumnya didefinisikan sebagai tumbuhan atau kelapa sawit (tanaman palma) yang menghasilkan minyak. Namun sekarang Sawit didefinisikan secara lebih spesifik sebagai pohon yang menyerupai kelapa, memiliki bunga berupa tandan bercabang dengan buah kecil berwarna merah kehitaman. KBBI secara resmi mendefinisikan “sawit” sebagai pohon dalam KBBI VI (2023), bukan lagi hanya sebagai tumbuhan palma.
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo, menegaskan bahwa sawit merupakan tanaman palma dalam kategori pertanian, bukan tanaman kehutanan. Perubahan definisi ini dinilai menimbulkan kekhawatiran serius terhadap perlindungan hutan dan tata kelola lingkungan hidup, sebagaimana dilansir dari laman ipb.ac.id.
Kelapa sawit sebagai tanaman palma memiliki perbedaan mendasar dengan pohon kehutanan jika ditinjau dari aspek anatomi dan fisiologi. Sawit termasuk kelompok monokotil yang tidak memiliki kambium vaskular sehingga tidak mengalami pertumbuhan sekunder dan tidak membentuk kayu sejati, berbeda dengan pohon dikotil yang memiliki kambium dan mampu mengalami penebalan batang melalui pembentukan xilem sekunder (Jura-Morawiec et al., 2021). Selain itu, struktur batang kelapa sawit didominasi oleh jaringan serat dengan berkas pembuluh yang tersebar, sehingga sifat fisik dan mekaniknya berbeda dengan kayu pada pohon dikotil yang memiliki struktur jaringan kayu yang lebih kompleks (Srivaro et al., 2018) Dari sisi fisiologi, perbedaan struktur antara palma (monokotil) dan pohon (dikotil) menyebabkan adanya perbedaan signifikan dalam penggunaan air dan laju transpirasi, yang berimplikasi pada dinamika hidrologi suatu ekosistem (Kunert et al., 2015). Meskipun kelapa sawit sering disebut sebagai “tree” dalam beberapa literatur, istilah tersebut lebih merujuk pada bentuk morfologinya, sedangkan secara ilmiah tetap diklasifikasikan sebagai arborescent monocot yang berbeda secara fundamental dari pohon sejati (Pomiès et al., 2023).
Dilansir dari Badan bahasa.kemendikdasmen.go.id dalam artikelnya menjelaskan bahwa dalam leksikografi, definisi disusun dari kategori umum (genus) lalu ciri khususnya. Kata “sawit” dalam KBBI sejak lama didefinisikan dengan genus “pohon”, dan hal ini juga diperkuat oleh pakar botani BRIN karena sawit paling sesuai dibanding kategori lain seperti liana, terna, atau perdu. Pemilihan ini didasarkan pada kebutuhan kamus agar definisi tetap tepat secara ilmiah sekaligus mudah dipahami, serta sejalan dengan kamus internasional seperti OED dan Britannica.
Namun, perlu ditegaskan bahwa perubahan ini akan menimbulkan konsekuensi luas dan besar. Dilansir dari Tempo.com, anggapan kelapa sawit sebagai pohon akan mengubah cara pandang dalam memperlakukannya. Perubahan fungsi hutan menjadi perkebunan sawit tidak lagi dikategorikan sebagai deforestasi. Selain itu, Prof. Bambang Hero Saharjo menyatakan bahwa kebun kelapa sawit memiliki kemampuan yang lebih rendah dalam menyerap karbon, melindungi tanah, mengurangi risiko banjir, serta mendukung keanekaragaman hayati dibandingkan dengan hutan alam. Dalam konteks ini, sawit juga berpotensi diposisikan sebagai komoditas kehutanan yang tidak lagi berada di bawah regulasi Kementerian Pertanian. Dengan demikian, penetapan sawit sebagai pohon dapat membawa implikasi yang luas, tidak hanya secara ekologis tetapi juga dalam aspek tata kelola dan ketatanegaraan.
Sumber:
IPB University. (2026). Guru besar IPB University ungkap perbedaan konseptual antara sawit dan pohon kehutanan. https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/02/guru-besar-ipb-university-ungkap-perbedaan-konseptual-antara-sawit-dan-pohon-kehutanan/
Jura-Morawiec, J., Oskolski, A., & Simpson, P. (2021). Revisiting the anatomy of the monocot cambium, a novel meristem. Planta, 254(1), 6.
Kunert, N., Teóphilo Aparecido, L. M., Barros, P., & Higuchi, N. (2015). Modeling potential impacts of planting palms or tree in small holder fruit plantations on ecohydrological processes in the Central Amazon. Forests, 6(8), 2530-2544.
Marcinkiewicz, J., & Jura-Morawiec, J. (2025). Pattern of secondary growth in monocot roots: unveiling longitudinal and cross-sectional variability. Planta, 262(2), 36.
Pomiès, V., Turnbull, N., Le Squin, S., Syahputra, I., Suryana, E., Durand-Gasselin, T., … & Bakry, F. (2023). Occurrence of triploids in oil palm and their origin. Annals of Botany, 131(1), 17-32.
https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/artikel-detail/4802/menyoal-entri-sawit-di-kbbi
Srivaro, S., Rattanarat, J., & Noothong, P. (2018). Comparison of the anatomical characteristics and physical and mechanical properties of oil palm and bamboo trunks. Journal of Wood Science, 64(3), 186-192.
Tempo. (2026). Definisi sawit adalah pohon di KBBI. https://www.tempo.co/kolom/definisi-sawit-adalah-pohon-kbbi-2107866
Tim Redaksi KBBI. (2026, Januari 4). Menyoal entri “sawit” di KBBI. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/artikel-detail/4802/menyoal-entri-sawit-di-kbbi